Sabtu, 02 Juli 2016

SISTEM PELUMASAN

SISTEM PELUMASAN

https://teacherroom.files.wordpress.com/2014/05/24.jpg


Pelumas memegang peranan penting dalam desain dan operasi semua mesin otomotif. Umur dan service yang diberikan oleh mobil tergantung pada perhatian yang kita berikan pada pelumasannya. Pada motor bakar,  pelumasan bahkan lebih sulit dibanding pada mesin-mesin lainnya, karena di sini terdapat panas terutama di sekitar torak dan silinder, sebagai akibat leadakan dalam ruang
pembakaran. Tujuan utama dari pelumasan setiap peralatan mekanis adalah untuk melenyapkan gesekan, keausan dan kehilangan daya. Tujuan lain dari pelumasan pada motor bakar adalah:
1. Menyerap dan memindahkan panas.
2. Sebagai penyekat lubang antara torak dan silinder sehingga tekanan tidak bocor      dari ruang pembakaran.
3. Sebagai bantalan untuk meredam suara berisik dari bagian-bagian yang bergerak.
Pada sisitem pelumasan terdapat beberapa macam sistem yang saling melengkapi agar terjadinya pelumasan yang baik di dalam suatu kendaraan.
        Prinsip kerja sistem pelumasan:
Oli diangkat dari bak oli ( carter), oleh suatu sedotan, dari pompa oli yang digerakkan oleh perputaran roda gerigi yang dikoperlkan dengan perputaran poros engkol, melalui pipa hisap.
Dari pompa oli, disalurkan melalui pipa pembagi, kemudian dialirkan ke suatu media pendinginan yang berupa pipa penunjang melingkar satu setengah ( 1 ½ ) lingkar dnegan dinding bersirip untuk memperluas permukaan pipa sehingga proses pendinginan lebih lancar dari udara sekitarnya atau berupa radiator oli atau tanpa kedua sistem pendinginan tersebut, tergantung dari kapasitas diesel.
Dalam hal yang terakhir ini oli hanya disalurkan ke dalam pipa yang cukup pendek saja ( y pass). Dari ini kotoran oli yang mungkin terbawa, baik dari luar maupun sirkulasi di dalam mesin sendiri. Sistem Pelumasan pada Rosker Arm dari klep, didapatkan melalui camp shaft, tappel dan push rod langsung menembus baud pengatur jarak rosker arm ( Rocker Arm Bearing) kemudian menetes keluar sejenak ditampung bak per klep ; melalui celah antara push rod dan pipa pelindung push rod, oli mengalir ke bahah menuju ke bak charter. Untuk pelumasan ada metal-metal dan juga dinding-dinding silinder, oli disalurkan melalui pipa kapiler yang terdapat dalam dinding charter ( crank case), juga masuk ke dalam pipa yang sejenis dengan crank case)
FUNGSI PELUMASAN
Mengurangi gesekan
Mesin sepeda motor terdiri dari beberapa komponen, terdapat komponen yang diam dan ada yang bergerak. Gerakan komponen satu dengan yang lain akan menimbulkan gesekan, dan gesekan akan mengurangi tenaga, menimbulkan keausan, menghasilkan kotoran  dan panas. Guna mengurangi gesekan maka antara bagian yang bergesekan dilapisi oli pelumas (oil film).
Sebagai peredam
Piston, batang piston dan  poros engkol merupakan  bagian mesin menerima gaya yang berfluktuasi, sehingga saat menerima gaya tekan yang besar memungkinkan menimbulkan benturan yang keras dan menimbulkan suara berisik. Pelumas berfungsi untuk melapisi antara bagian tersebut dan meredam benturan yang terjadi sehingga suara mesin lebih halus.
Sebagai anti karat
Sistem pelumas berfungsi untuk melapisi logam dengan oli, sehingga mencegah kontak langsung antar logam dengan udara maupun maupun air dan terbentuknya karat dapat dihindari.
Bagian bagian yang penting dari mobil yang memerlukan pelumasan adalah
1. dinding silinder dan torak
2. bantalan poros engkol dan batang penggerak
3. bantalan poros kam
4. mekanisme katup
5. pena poros
6. kipas pendingin
7. pompa
8. mekanisme pengapian
Macam – macam sistem pelumasan
Seperti telah saya jelaskan dalam postingan sebelumnya disini tentang kegunaan dan fungsi sistem pelumasan, maka sekarang saya akan menjelaskan macam – macam sistem pelumasan . Sistem pelumasan pada kendaraan baik mobil atau sepeda motor dapat kita kelompokkan menjadi 3 macam yaitu :
1. Jenis percik ( splash type)
Pada jenis ini stang seher dilengkapi dengan sendok yang berada pada ujung bagian bawah dari stang seher . Sehingga saat  mesin berputar, maka sendok pemercik akan memercikan oli yang di bak oli ke dinding silinder dan bearing. Jenis ini memiliki konstruksi yang sangat sederhana , namun sulit untuk melumasi bagian – bagian yang memiliki celah lebih sempit . Karena itu sistem pelumasan tipe ini sudah tidak lagi digunakan.
2. Jenis tekanan ( pressure feed type )
Pada jenis ini sistem pelumasan menggunakan pompa oli yang berguna untuk mensirkulasikan minyak pelumas.  Jenis inilah yang sekarang digunakan pada kendaraan baik mobil ataupun sepeda motor.
Adapun pompa oli yang digunakan ada bermacam – macam yaitu :
  • model roda gigi ( gear type )
  • model trocoid
Mengenai sistem pelumasan tipe ini akan saya bahas tersendiri dalam postingan saya berikutnya.
3. Jenis kombinasi
Pada sistem pelumas tipe ini adalah penggabungan dari sistem pelumas tipe 1 dan tipe 2 .

Gambar
 Gambar : 1 Sebuah Sistem Pelumasan.
Karter atau panci oli terletak pada bagian bawah engine untuk menyimpan oli yang diperlukan untuk pelumasan engine.
Sebuah tutup pengisi oli ketika dibuka, menyediakan sebuah ruang yang memungkinkan oli dapat dimasukan kedalam engine.
Tongkat kedalaman merupakan batang yang dapat dicabut dengan mudah yang digunakan untuk menjelaskan jumlah oli engine dengan benar.
Pompa oli mensirkulasikan oli engine ke komponen-komponen engine untuk memberikan pelumasan kepada bagian-bagian yang bergerak sehingga mecegah keausan akibat gesekan.
Katup pembebas tekanan oli memungkinkan takanan oli yang berlebihan untuk kembali ke panci oli, termasuk ketika engine dingin (oli pekat), untuk mengurangi kemungkinan kerusakan komponen-komponen sistem pelumasan.
Sebuah saringan oli dipasangkan untuk menghalangi partikel-partikel kotoran terbawa masuk oleh oli engine yang dapat menimbulkan kerusakan engine. Katup By-pass dipasangkan yang memungkinkan oli tidak tersaring dan masuk ke engine dengan jalan pintas ketika saringan buntu/ penuh klotoran.
Saluran Serambi Utama dan pipa-pipa, sebagai dipelumas menuju engine.
Indikator tekanan oli dirancang untuk memberi sebuah peringatan jika tekanan oli pelumas turun dibawah tekanan yang diperlukan untuk kerja engine yang efektif.
Pendinginan oli sesuatu yang dipasang untuk mendinginkan oli pelumas dengan memindahkan kelebihan panas dengan pendingin udara yang dilewatkan pada inti pendingin.
Katup Ventilasi Ruang Engkol (Positif Crankcase Ventilation (PCV)) dirancang untuk membuang kebocoran asap yang dihasilkan oleh pembakaran-pembakaran yang masuk keruang engkol. Asap ini dihasilkan karena tekanan pada engine yang meningkat, dihasilkan karena kebocoran perapat oli pada silinder.
GambarGambar : 2 Positive Crankcase Valve (PCV)

Fungsi dari oli pelumas adalah :
1. Mengurangi keausan engine agar minimum.
2. Mengurangi gesekan dan kehilangan tenaga yang diakibatkannya.
3. Memindahkan panas.
4. Mengurangi suara engine
5. Sebagai perapat.
6. Membersihkan kompone-komponen engine.
Lima kondisi yang mengotori oli pelumas engine :
1. Kotoran karbon dari pembakaran engine.
2. Debu dan kotoran yang terbawa masuk ke engine oleh oleh udara atau bahan bakar.
3. Bagian yang halus dari logam, merupakan hasil dari keausan engine, menjadi bercampur dengan oli.
4. Bahan bakar liar dan pembakaran menghasilkan kebocoran melalui ring-ring piston kedalam ruang engkoll.
5. Kondensasi / pengembunan air dari udara yang melalui engine.
Dalam engine dua langkah, oli pelumas dicampurkan dengan sebuah perbandingan campuran dengan bahan bakar, dan dimasukkan dalam tangki. Campuran oli dan bahan bakar dikabutkan melalui karburator kedalam ruang engkol disini melumasi bagian-bagian bergerak engine.
Cara lain dari pelumasan campur menggunakan pompa oli untuk menekan oli yang diinjeksikan diatur oleh pembukaan katup gas.
Beberapa engine menggunakan sistem pelumasan penci kering. Oli pelumas dikumpulkan pada sebuah tangki atau penampung yang terpasang dilluar rangkaian engine. Pengaliran dilakukan dengan tekanan menuju rangkaian mesin oleh pompa oli pengalir dan disebarkan kebagian-bagian yang bergerak oleh saluran serambi utama atau pembuluh (saluran-saluran halus) dalam engine. Setelah melumasi komponen yang bermacam-macam, oli jatuh dipanci oli dibagian bawah engine dimana sebuah pompa pembilas mengambil oli tersebut dan mengembalikan ke penampung / tangki oli untuk disirkulasikan ulang.
Gambar
 Gambar : 3 Sistem Pelumasan Panci Kering.
Engin/mesin-mesin stationer 4 langkah kecil seperti pemotong rumput, menggunakan sistem pelumasan tipe ciprat / percik. Ketika poros engine berputar, bantalan ujung besar batang torak terendam didalam penampung oli, memercikan oli disekeliling bagian-bagian setengah bagian bawah engine.
Skop kecil terkadang dipasangkan pada ujung besar batang torak untuk membantu proses pengambilan oli. Apabila putaran engine meningkat bagian kabutan tipis oli menembus bagian-bagian bawah yang bergerak.
Perbedaan diantara sebuah sistem penyaringan tipe aliran penuh dan penyaringan tipe by-pass adalah bahwa sistem aliran penuh menggunakan sebuah elemen kertas atau model kaleng atau cartridge yang terpasang antara pompa oli dan saluran utama oli, untuk menyaring semua partikel ukuran besar sebelum menggores bantalan dan bagian-bagian penggerak lain.
Gambar
Gambar : 4 Sringan Oli Aliran Penuh.
Sementara sistem penyaringan tipe by-pass menggunakan sebuah elemen saringan serupa, terpasang pada sisi tekanan dari pompa dan oli yang disaring kembali ke panci oli. Sebuah pembatas dipasang sehingga kira-kira 10 % dari oli yang dialirkan pompa tersaring.
GambarGambar : 5 Saringan oli By-pass.
Tiga tipe yang berbeda dari pompa oli pelumas engine adalah :
1. Pompa roda gigi.
2. Pompa rotor.
3. Pompa sabit.
Engine menggunakan sebuah sistem pelumasan mesin tipe tekanan juga memiliki tambahan sebuah saringan pengambil (saringan kasar) dari pengayak baja selain telah dilengkapi saringan oli dengan elemen kertas (saringan halus). Saringan tambahan ini dipasangkan pada panci oli pada sisi masuk pompa oli dan terdiri dari sebuah saringan kasar atau pengayak. Fungsi primernya adalah untuk mencegah pertikel-pertikel besar terisap naik ke pompa oli atau saluran oli.
Dua tipe indikator tekanan oli yang digunakan pada engine untuk menunjukkan kerusakan /gangguan tekanan oli :
1. Lampu peringatan.
2. Pengukur tekana oli.
Beberapa pabrik memasang sebuah magnet kecil pada pengetap panci oli yang menarik dan memegang partikel-partikel logam besi untuk mencegah partikel-partikel tersebut masuk kepompa karena dapat menyebabkan kerusakan. Magnet akan dibersihkan ketika melakukan penggantian oli.
Gambar
Komponen-komponen Sistem Pelumasan :
Oil Pressure Switch

Suatu komponen yang berfungsi sebagai switch yang mengaktifkan lampu peringatan bila tekanan oli tidak tercukupi pada saat mesin mobil dinyalakan.
Oil Pump
Suatu komponen yang berfungsi untuk menarik oli yang berada di Oil Pump dan memompa oli tersebut ke seluruh bagian mesin mobil.
Relief Valve
Komponen ini bekerja untuk membebaskan tekanan pada saat Oil Pump mempunyai tekanan yang berlebihan.
Oil Strainer
Komponen yang berupa saringan oli dan terpasang di saluran masuk oli untuk memisahkan partikel yang besar dari oli.
Oil Filter
Komponen ini berfungsi sebagai penyaring kotoran yang tidak diinginkan dari oli mesin yang secara bertahap akan terkontaminasi dengan kotoran besi dan lainnya.
Gambar
Apabila mesin mulai distart, gesekan antara bagian-bagian mesin akan mengurangi tenaga mesin. Oli pelumas yang memberikan pelumasan secara tetap pada bagian-bagian mesin untuk mencegah dan membatasi keausan. Pelumasan ini dilakukan oleh sistem pelumasan mesin.

CARA PEMERIKSAAN MINYAK PELUMAS
1. Tempatkan kendaraan ditempat yang rata
2. Apabila kendaraan habis perjalanan/ panas, tunggu 30 menit
3. Apabila kendaraan dalam kondisi dingin hidupkan 1-3 menit kemudian matikan
4. Tarik batang pengukur minyak dan bersihkan dengan kain lap, kemudian masukkan kembali dengan tepat.
5. Tarik kembali batang pengukur kemudian perhatikan :
6. Periksa volume minyak ,harus pada level F dan L pada batang pengukur
7. Periksa Viskositas (kekentalan minyak) dengan jari tangan
8. Periksa perubahan warna minyak mesin
PERUBAHAN WARNA MINYAK MESIN
Warna merah berarti minyak tercampur bensin
Warna kelabu berarti bercampur serbuk bantalan
Warna susu berarti bercampur dengan air
Warna coklat berarti bercampur dengan karbon
Minyak pelumas mesin bensin disarankan menggunakan minyak dengan tingkat kekentalan (viskositas) SAE 30 atau 20W/50 dengan API service SE keatas

Minggu, 26 Juni 2016

cunap motorbensin


A.    PROSES KERJA
  1. Persiapan Pekerjaan
Sebelum melaksanakan pekerjaan perawatan dan pemeriksaan system pengapian konvensional terlebih dahulu kita mempersiapkan alat dan bahan yanga akan kita gunakan:
Alat: a.   multi tester(AVOmeter)
b.      Fuller gauge
c.       Timing ignation
d.      Tacho meter
e.       Kunci ring (19)
f.       Kunci kombinasi atau kunci T (12)
g.      Obeng +
h.      Obeng –
i.        Hydrometer
j.        kompresor
  1. Aspek Keselamatan Kerja
a.       Sebagai peserta Prakerind harus datang 15 menit lebih awal sebelum pekerjaan di mulai.
b.Peserta Prakerind harus mempunyai pemikiran keselamatan kerja.
c.       Harus meminta petunjuk kepada pembimbing bila ada kesalahan atau kesulitan
d.      Melaporkan pada pembimbing bila ada kerusakan.
e.       Menelit setelah selesai bekerja terutama alat-alat yang telah digunakan.
f.       Setelah selesai bekerja peserta harus mambersihkan tempat dan alat-alat yang telah di gunakan.
g.      Bila membuang sampah harus pada tempat yang telah di sediakan.
h.      Tidak bercanda atau bergurau ketka masih dalam lingkungan bengkel.
i.        Mentaati segala peraturan-peraturan yang telah di terapkan di bengkel dengan bijaksana dan tanggung jawab.
  1. Pemeliharaan Tempat Kerja dan Lingkungan Kerja
a.       Pekerja diharuskan setelah bekerja membersihkan tempat-tempat bekerja yang di kerjakan pada waktu dikerjakan itu.
b.      Merawat dan menjaga lingkungan kerja.
c.       Baranang-barang bekas setelah tidak digunakan atau terpakai harus dipendam supaya tdak menmulkan pencemaran.
d.      Tempat bekerja harus dibersihkan.
  1. Gambar Kerja
Gambar.21 Rangkaian sistem pengapian.
  1. langkah kerja
a.       Pemeriksaan pada saat mesin dingin
1)      baterai
a)      lepas kabel negative terlebih dahulu, kemudian lepas kabel positifnya.
b)      Angkat kontak baterai tegak lurus ke atas, jika miring elektroit akan mengalir keluar, posisilkan kedua tangan di bawah kotak baterai
Gambar. 22 Mengangkat baterai yang benar.
c)      Bila terminal baterai berkarat atau berkerak, bersihkan menggunakan air hangat / lap, kemudian terminal di amplas / di sikat menggunakan sikat kawat agar arus dari baterai dapat disalurkan dengan sempurna tanpa ada halangan dari karata atau kerak tersebut
Gambar. 23 Membersihkan bateraui menggunakan lap bersih.
Gambar. 24 Pemeiksaan kerak baterai.
Gambar. 25 Membersihkan kerak baterai menggunakan sikat kawat.
d)     Baterai yang rusak atau bocor ganti dengan baterai yang baru.
Gambar. 26 Kondisi baterai rusak.
Gambar. 27 Kondisi baterai baru.
e)      Perbaiki dan bersihkan pengikat klem yang kendor atau barkarat.
Gambar. 28 Pemeriksaan kondisi klem baterai.
f)       Bersihkan dudukan baterai.
Gambar. 29 Pemeriksaan dudukan baterai.
g)      Periksa kotak baterai, apabila kotor bersihkan menggunakan air.
h)      Periksa volume elektrolit, dengan cara meletakkan baterai pda tempat yang rata dan periksa elektrolit pada batas upper dan lower. Jika di bawah lower atau pada psisi lower tambahkan air suling.
Gambar. 30 Pemeriksaan volume elektrolit.
i)        Periksa lubag penguapan udara pada tutup baterai, tiup lubang pengiuapan udara menggunakan udara bertekanan.
Gambar. 31 Pemeriksaan tutup baterai dari kotoran / debu.
j)        Periksa berat jenis elektrolit mengguakan hydrometer, berat jenis standard pada suhu 20˚ adalah 1,25-1,27.
Gambar. 32 Pemeriksaan berat jenis baterai.
Catatan:
Barat jenis standard pada suhu 20˚ adalah sebaga berikut:
§ 1250 – 1270 (baterai dengan berat jenis nominal 1260).
§ 1270 – 1290 (baterai dengan berat jenis nominal 1280).
§ Apabila berat jenis kurang dari standard, caa mengantasinya adalah dengan cara dicharge / dicas.
Gambar. 33 Pengecasan baterai.
§ Apabila berat jenis melebihi standard, cara mengatasinya adalah dengan cara di tambah air suling agar berat jenis berkurang.
k)      Periksa kapasitas baterai dengan menggunakan multitester, tegangan standard adalah 12,6 volt.
Gambar. 34 Menempatkan selector pada 50 DCV.
Gambar. 25 Penempatan terminal multitester dengan terminal baterai.
Gambar. 26 Hasil pengukuran kapasitas baterai.
Kondisi pengisian baterai
Volt meter
(beda polaritas)
100%
12,6 V
75%
12,4 V
50%
12,1 V
25%
11,9 V
0%
Dibawah 11,9 V
Sumber:yuasa batteries
Tabel. 3 Hasil pengukuran kapasitas baterai.
2)      Busi
a)      Lepas busi dari dudukannya dan usahakan jangan sampai kotoran masuk, untuk mencegahnya dapat di lakukan dengan cara menutup lubang busi menggunakan kain bersih.
b)      Bersihkan elektroda busi dengan udara bertekanan dan periksa apakah elektroda terdapat keretakan atau tidak, bila terdapat keretakan ganti busi dengan menggunakan busi yang baru.
Gambar. 27 Membersihkan rongga busi menggunakan udara bertekanan.
c)      Bersihkan ulir ulir busi menggunakan lap atau kain bersih.

Gambar. 28 Pemeriksaan ulir-ulir pada busi.
d)     Periksa keausan dan warna busi, apabila warna busi abu abu muda berarti pembakarannya baik, bila warna busi putih berarti mesin terlalu panas, bila warna busi hitam berarti minyak pelumas ikut terbakar, bila warna busi hitam kering berarti campuran bahan bakar terlalu kaya.
e)      Periksa keadaan elektroda apakah ada endapan atau tidak.
f)       Periksalah celah busi menggunakan fuller gauge, hasil pengukuran standard adalah 0,8 mm.
Gambar. 29 Pemeriksaan celah busi.
Catatan:
§  Jangan menggunakan alat pembersih busi lebih lama dari yang di perlukan.
3)      Pemeriksaan kabel tegangan tinggi
a)      Periksa tahanan kabel-kabel tegangan tinggi, periksa antara terminal-terminal tahanan dari tiap-tiap kabel. Tahanan standard  kurang dari 25Ω.
Gambar. 30 Pemeriksaan kabel tegangan tinggi.
b)      Bila terminal kabel busi terlalu longgar ketika di pasang pada terminal busi, maka perbaiki terminal kabel tegangan tinggi menggunakan tang jepit.
Gambar. 31 Memeriksa kelongaran pada terminal kabel tegangan tinggi.
4)      Distributor
a)      Periksalah tutup distributor dari keretakan. Bersihkan dan periksa panjang brush.
Gambar 32 pemeriksaan tutup distributor.
b)      Bersihkan rotor menggunakan kain ataau lap bersih. Periksa keretakan dan kebocoran rotor.
Gambar. 33 Pemeriksaan keretakakan rotor.
Catatan: jangan menggosok ujung rotor dengan amplas.
c)      Periksa godvernoor advancer dengan cara memutar rotor searah jarum jam dan kemudian lepas rotor, maka rotor akan kembali.
Gambar. 34 Pemeriksaan sentrifugal advancer.
d)     Periksa selang vacuum advancer dengan cara menghisap salah satu ujung dan ujung yang lainnya di tutup menggunakan jari.
Gambar. 35 Pemeriksaan selang vacuum advancer.
e)      Periksa vacuum advancer dengan cara menghisap selang yang ke vacuum advenceer dan perhatikan dudukan platina, maka kelihatan ada gerakan, apabila tidak ada gerakan berarti ada keocoran / terjadi kemecetan pada rumah platina.
f)       Pemeriksaan oktan selector adalah dengan cara memutar octan selector 1 kali searah jarum jam. Jadi setiap memutar 1 kali oktan selector akan mengajukan pengapian 5˚
Gambar. 36 Pemeriksaan octan selector.
5)      Pemeriksaan ignation coil
Catatan: ignation coil ada beberapa macam namun prinsip kerjanya sama yaitu:
§  Ignation coil tanpa resistor.
§  Ignation coil dengan resistor, ignation coil dengan resistor ada dua yaitu: internal resistor dan external resistor.
a)      Pemeriksaan primary coil
Pemeriksaan primary coil dengan cara menghubungkan terminal positif ignatin coil dengan terminal negative ignation coil. Tahanan primary coil standard adalah 1,3 – 1,6
Gambar. 37 Pemeriksaan primary coi
Gambar. 38 Hasil pengukuran primary coil.
b)      Pemeriksaa scondary coil
Pemeriksaa scondary coil adalah dengan cara menghubungkan
Terminal positif ignation coil dengan terminal yang ke busi. Tahanan standard adalah 10,7 – 14,5 Ω
Gambar. 38 Pemeriksaan secondary coil.

Gambar. 39 Hasil pemeriksaan secondary coil.
6)      Pemeriksaan celah platina.
a)      Bersihkan platina dari kotoran atau minyak menggunakan udara bertekanan.

Gambar. 40 Membersihkan platina menggunakan udara bertekakan.
b)      Putar nok poros sejajar dengan bilik karet platina. Hingga platina membuka penuh.
Gambar. 41 Memutar poros engkol.
Gambar. 42 Kontak platina membuka penuh.
c)      Dengan menggunakan fuller gauge ukur celah antar ujung platina, dengan cara mengendorkan terlebih dahulu baut pengikat platina.
Gambar. 43 Pengukuran celah platina.
d)     Setelah celah sesuai kencangkan baut pengikat platina.
e)      Periksa posisi rotor pada saat top silinder 1 atau di tandai dengan rotor mengarah ke busi No 2.
Gambar. 44 Rotor menghadap busi No 2.
f)       Pasang kabel busi dengan urutan 1 3 4 2.
b.      Pemeriksaan pada saat mesin hidup
1)      Pemeriksaan dweel agle (CDA).
Pemeriksaan dweel agle dilakukukan dengan cara menghubungkan positif tachometer dengan terminal positif coil dan terminal negative tachometer dengan terminal yang terdapat pada kondensor. Sudut dweel standard adalah 46 – 58˚
Gambar . 45 pemeriksaan dweel agle.
Gambar . 46 hasil pemeriksaan dweel agle.
Catatan:
§  Dweel agle adalah sudut antara platina mulai menutup sampai platina membuka penuh.
§  Pada saat melakukan tune up, periksalah CDAnya karena apabila CDA terlalu besar coil akan panas dan apabila CDA terlalu kecil maka kemagnetan yang timbul pada primary coil akan kecil dan induksi scondary juga akan kecil.
§  Apabila CDA terlalu besar dari standard berarti penyetean celah platina terlalu kecil (rapat).
§  Apabila CDA terlalu kecil dari standard berarti penyetelan celah platinnya terlalu besar.
§  Apabila CDAnya berubah-ubah kemungkinan disebabkan karena nok distributor aus, bantalan poros distributor rusak, atau pegas platina rusak.
2)      Peemerikaan saat pengapian
a)      Tempatkan kabel sensor timing light pada kabel busi No 1.
Gambar. 47 Penempatan sensor timing light pada busi No.1.
b)      Tekan tombol TL pada timing light.
Gambar. 48 Menekan tombol TL pada timing light.
c)      Arahkan pada puli pengukur timing ignation.
Gambar. 49 Mengarahkan timing light pada puli.




d)     Apabila munculnya terlalu awal maka cara mengatasinya dengan cara memutar body distributor searah/berlawanan putaran rotor. Sudut pengapian standard adalah 8˚ sebelum TMA.
Gambar. 50 pengapian terlalau awal.
e)      Apabila pengapian muncul terlalu lambat maka cara mengatasinya dengan cara memutar distributor searah/berlawanan putaran rotor, sudut pengapian standard adalah 8˚ sebelum TMA.
Gambar. 51 pengapian terlambat.
f)       Apabila pengapian kurang tepat maka cara mengatasinya dengan cara terlebih dahulu baut distributor dan kemudian memutarar distributor, setelah pengapian tepat maka langkah terakhir adalah mengencangkan baut distributor tersebut.
Gambar. 52 pengapian tepat.
Catatan:
§  Sebelum pemeriksaan saat pengapian maka kita harus memeriksa apakah posisi octan selector sudah standar, atau belum bila belum lakukan penyetelan.
§  Periksa apakah putaran idle sudah memenuhi syarat atau belum, bila belum lakukan penyetelan.
§  Pada saat pemeriksaan saat  pengapian saringan udara harus terpasang.